Connect-ed Life

Connecting People's Lives through Experiential Education

Sebuah Pelajaran Istimewa dari Memasak

Nervous. Itu adalah satu kata yang mewakili apa yang saya rasakan malam itu. Bukan, bukan, saya bukannya mau kencan dengan pangeran charming Jepang. Saya cuma mau masakin kurang lebih dua puluh orang asing dengan masakan yang sebelumnya ga pernah saya masak ketika saya di Indonesia. Dan kenyataan bahwa saya bukan tipe cewek yang suka masak, semakin membuat saya kurang percaya diri. Di Indonesia, saya hanya pernah masak telor goreng, nasi goreng sederhana, dan mi instan. Jadi, ketika ide untuk membuat Indonesian Dinner muncul, saya bertanya pada diri saya sendiri, “Emang lo bisa?” yang kemudian dijawab dengan suara asing entah darimana, “yes! Just take the challenge!”

Berbicara tentang proses, sunggguh tidaklah mudah. At least, saya habiskan minggu pertama hanya untuk memikirkan apa yang akan saya masak. Kesulitan utama adalah mencari bahan-bahan masakan, karena sangat sulit untuk menemukan bahan-bahan khas Indonesia di jepang. Seringkali terjadi ketika saya sudah memutuskan untuk membuat satu masakan, kemudian saya menyadari ada satu bahan yang tidak ada di jepang. Tak hanya itu, kesulitan lain juga ada di alat masak. Salah satu contoh adalah ‘ulekan’ yang sudah pasti tidak ada di Jepang. Sedangkan hampir semua masakan Indonesia, bumbunya diulek menggunakan ‘ulekan’ tersebut.

Nyerah mencari sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk menghubungi teman yang memang ahli masak. Saya mencoba meminta saran masakan apa yang sekiranya bahannya mudah didapat di jepang dan mudah untuk dimasak. Teringankan? Pasti. Tapi terkadang, perang antara perfeksionisme dalam penyajian masakan dengan keterbatasan bahan masakan yang ada membuat saya dan teman saya terkadang berdebat. Bagaimanapun, saya ingin menyajikan yang terbaik untuk event, tapi keterbatasan bahan menghalangi. Penggantian resep masakan pun juga pernah terjadi, padahal kami sudah mempublikasikannya di page kami. Hingga akhirnya keluarlah 4 macam masakan yang sudah fix akan saya sajikan untuk Indonesian Dinner.

Tahap selanjutnya adalah berlatih. Saya cukup sadar diri untuk tahu seberapa besar kemampuan yang saya punya dalam hal memasak hingga saya putuskan untuk berlatih. Tak mudah, satu kata pertama yang muncul dalam benak saya. Saya harus meluangkan tenaga, waktu, dan uang yang tentu tak banyak saya punya karena saya hanya seorang mahasiswa magang di Jepang. Saya juga harus merasakan perasaan sedih ketika saya harus membuang hasil masakan yang gagal dan tidak bisa dimakan. Sebuah perasaan yang belum pernah saya rasakan. Dan ketika saya sadar, saya merasa takjub. Takjub pada kenyataan bahwa saya bisa merasakan hal baru dari hal sederhana seperti memasak.

Bagi saya yang dulu, memasak adalah ketika kamu mencampur semua bahan, menambahkan garam dan ketika sudah dirasa enak, maka matikan kompor dan makan. Pribadi saya sendiripun merupakan orang yang tak suka hal ribet. Namun, saya selalu berusaha untuk mengambil pelajaran dari apapun yang saya kerjakan. Jadi ketika teman saya memberitahu saya bahwa terdapat aturan-aturan kecil seperti meletakkan satu bahan di arah jarum jam 1, atau mungkin bahan ini tidak boleh bertindihan dengan bahan itu, dengan alasan yang sangat akurat, saya menyadari satu hal, bahwa semua bahan memiliki perannya masing-masing. Memasak tak sesederhana memasukkan sejumput garam dan bumbu penyedap, enak, makan, kelar. No! Memasak adalah bagaimana mencampurkan perpaduan peran dari setiap bahan menjadi sebuah satu harmoni ajaib hingga dapat menghasilkan rasa yang menakjubkan. Satu pelajaran istimewa dari memasak.

Dan terakhir, cobalah untuk rasakan sendiri perasaan bahagia yang dirasakan ketika melihat mereka yang memakan masakanmu tersenyum bahagia dan berkata satu kata sederhana, “enak!”. Kau pasti menemukan kebahagiaan baru dalam hidupmu. Kebahagiaan yang meskipun sederhana, tetapi istimewa.

8.jpg

Un piatto di pasta a Kamata

Lo so, lo so. La prima cosa che viene in mente dell'Italia è la pasta. Cosa può esserci di più cliché? I baffi, forse. Ma essendo una ragazza sono svantaggiata in questo campo.
A parte questo, alla fine non importa tanto quello che cucini (anche se comunque la pasta rimane la pasta). Quello che conta è per chi cucini.
Cucinare da soli è utile per affinare la tecnica, ma la parte più "passionale" comincia quando ti rendi conto che il cibo è più buono quando è condiviso (e la bilancia è più clemente).
Cucinare con gli altri, e per gli altri, è un piacere che molti si negano; perché hanno paura di commettere degli errori, perché temono di fare brutta figura, o semplicemente perché preferiscono la solitudine. Ma tutto questo ha poca importanza. A prescindere dall'abilità di chi cucina, e anche dal risultato, sono così tante le cose che si possono scoprire cucinando insieme agli altri. E' un incontro fra culture diverse, ma anche fra caratteri diversi. Cucinare con qualcuno serve anche a capire meglio quella persona.
Cucinando un piatto di pasta al ragù insieme a persone appena conosciute, ho capito molte più cose di loro di quante ne avrei scoperte attraverso mille discorsi.
Quando mi è stato spiegato che uno degli obiettivi del progetto Connect House era quello di unire le persone e le culture attraverso il cibo, ho subito ricevuto un'ottima impressione. Ma sinceramente non pensavo di fare una simile esperienza proprio il primo giorno.

Accettate questo consiglio: cucinate con qualcuno, e per qualcuno. Non sapete cucinare? Sarà un'ottima occasione per smettere di succhiare la pizza surgelata.

文化之旅-多彩东京

东京,用她的色彩和你相拥相抱,总会在不同的街角给你一个惊喜,像打开神秘的巧克力盒子一样,不知道下一颗究竟是怎样的味道,让充满好奇的旅者在旅途上不断行走着,期待着,追逐着。夜幕下浪漫的东京铁塔,活色生香的六本木夜店,原宿街头奇装异服的少男少女,银座定级豪华的购物街,藏在新宿思出横町的小酒馆,秋叶原街头浓妆艳抹的女仆扮演者和夺人眼球的巨幅海报。 最让我印象深刻的还是根津神社,秋天的时候,会有金黄色香杏叶飘落到潺潺小溪流,能遇见午后晒太阳的黑猫和安静看书的老爷爷。

进入神社之后,用小木勺舀些清水净手,丝丝凉意浸入心田。走到神像面前,轻轻摇动铃铛,击掌三下。因为有这样一种说法,响铃是为了沉睡中的神像苏醒过来,这样他就能听到你心中的述说,默默保佑你。在闭上眼睛的那一瞬间,让心安静下来和自己对话,会有一种纯粹而深沉的力量蓄势待发。这就是我所感受到的安静而纯白的东京。

东京铁路,作为全球最复杂,最密集且运输流量最高的铁道运输系统和通勤车站群,又是另外一道别致的风景线,生活在这座城市的人们,一天总会有好些时候在这些密集的铁路线间穿梭。当然,除了有些糟糕的早晨上下班高峰期,这里就像一个巨大的舞台,每天上演着不同的场景,有些让你分不清这是真实还是戏剧。 比如说在夏天的花火大会和纳凉大会,日本的男男女女们都会穿上浴衣和木屐去赶场。年轻的女子们总是选择颜色清新的浴衣,在腰间系上一个艳丽的蝴蝶结。

食物绝对是一个说上三天三夜都说不完的话题!从西洋食品意大利面到亚洲中国小笼包,无论是什么在东京你都可以找到。不过,最让人赞不绝口的当然是美味,营养和造型三者都兼顾的日本菜了!一个个精致玲珑的寿司,就像一件被精心雕琢过的艺术品一样,盛放在小碟子上。旋转寿司餐厅有各种各样的寿司选择,比如说:红色的吞那鱼寿司,黄色的鸡蛋烧寿司,晶莹透亮的北极贝寿司。寿司永远都是吃不够的,不过每一次吃寿司都会留下快乐开心的微笑!




An "American" Barbecue

Last Thursday night, July 2nd, Connect House Ikegami hosted its very own American "Independence Day barbecue" in Kitchen Studio 401.  As the hour approached 6:00, the interns did their preparations for the night's festivities. Hamburger meat: check. Kitchen Studio TAFA's own sausages: check. Drinks: check. Chips: check. Buns...

In regards to buns, there were many options at the store, only two packages of which were hamburger buns. Improvisation was required, but that did nothing to stop the night's fun.

As the tenants and their friends filed in to the tune of Gramatik's Street Bangerz Vol. 3 playing on television speaker, room 401 started to buzz in the languages of French, English, Japanese, Chinese and robustly flavored sausage. I dropped in on an intellectual conversation with a CalTech PhD student about neural physics; attempted a conversation in Japanese with a long term tenant that works in graphic design; and discussed Ramadan and Moroccan girls with another guest. All this, while eating a deliciously paired hamburger between two slices of Japanese shoku-pan, the standard white bread of a Japanese continental breakfast. An unconventional protein and carbohydrate combination indeed, although I wouldn't say the rest of the night was much different.

As the night winded down and guests started to leave with full stomaches, a strange phenomenon occurred. Everyone gathered in a circle of chairs with their drinks in their hands. Nobody was left out. It was a moment so perfect, I didn't want to interrupt it with a photograph. But I did.  It was a beautiful way to end a rainy night in Tokyo.

Until next post,

Issay Matsumoto

Copyright © ConnectEd U Co., Ltd.